PROGRAM GURU PENGGERAK ANGKATAN 4
Minggu, 27 November 2022
Sabtu, 09 Juli 2022
3.3.a.10.2. Jurnal Refleksi - Minggu 24
3.3.a.10.2. Jurnal Refleksi - Minggu 24
Fact (Peristiwa)
- Dipandu oleh fasilitator membuat rencana program atau kegiatan sekolah yang secara sengaja dirancang untuk mendorong tumbuhnya kepemimpinan murid dan terlibat secara aktif dalam diskusi dengan rekan-rekan CGP yang lain.
- Melakukan Kolaborasi sesi diskusi presentasi kelompok.
- Melakukan Refleksi Terbimbing
- Melakukan Kegiatan demonstrasi kontekstual. Dalam kegiatan ini menyusun rumusan prakarsa perubahan bagi sekolah sendiri. Kemudian, menggunakan kerangka perubahan BAGJA (yang telah dipelajari pada modul sebelumnya) dengan menyusun pertanyaan dan apa yang harus dilakukan dalam setiap tahapan BAGJA.
Feeling (Perasaan)
- Bersyukur bisa belajar dan berbagi melalui pendidikan guru penggerak sampai dengan hari ini.
- Bangga bisa memberikan kebermanfaatan pada sekolah dan komunitas ilmu dipendidikan guru penggerak.
- Bahagia bisa berdiskusi dengan rekan-rekan CGP hebat.
- Sedih pada modul akhir ini menandakan kegiatan PGP akan berakhir.
Finding (Pembelajaran)
- Mengembangkan ide menjadi sebuah prakarsa perubahan dalam bentuk rencana prgram atau kegiatan yang memanfaatkan model manajemen perubahan BAGJA dalam mengelola sekolah yang berdampak pada murid.
- Bentuk program dan strategi memilih bentuk program yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan aspek-asepk dalam mengembangkan program dan manajemen resiko dan mengelola resiko menjadi sebuah potensi yang berorientasi pada pembelajaran murid serta prinsip monitoring, evaluasi dan implementasi dalam pengelolaan program.
- Pengelolaan program yang berdampak pada murid tentang bentuk program sekolah sederhana dan membuat perencanaan program sekolah yang berdampak pada murid serta dalam pengelolaan program dengan strategi MELR dan manajemen resiko.
Future (Penerapan)
- Menganalisis aset apa yang dapat dimanfaatkan dalam penyusunan program.
- Merencanakan program yang berdampak pada murid dengan tahapan BAGJA.
- Menerapkan manajemen resiko dan mengelola resiko menjadi sebuah potensi yang berorientasi pada pembelajaran murid.
- Melakukan monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan program.
3.3.a.10.1. Jurnal Refleksi - Minggu 23
3.3.a.10.1. Jurnal Refleksi - Minggu 23
Model Refleksi : Model 4F (Facts, Feelings, Finding, Future)
Facts
Feelings
Finding
Future
Rabu, 15 Juni 2022
3.2.a.10.3. Jurnal Refleksi - Minggu 22 Guru Penggerak
3.2.a.10.3. Jurnal Refleksi - Minggu 22 Guru Penggerak

Connection
- Apa keterkaitan materi yang didapat dengan peran Anda sebagai Calon Guru Penggerak?
Pada minggu ini saya menyelesaikan Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya yaitu elaborasi pemahaman dengan instruktur yang sangat menginspirasi dari awal perkenalan sampai dengan cara memberikan refleksi. Pengelolaan sumber daya berupa aset yang dimiliki oleh SMPN 1 Jenar Sragen berhasil kami petakan sesuai permintaan LMS modul 3.2.a.7 Demontrasi kontekstual. Kemudian dilanjutkan dengan membuat koneksi antar materi dan diakhiri dengan aksi nyata.
Challenge
- Adakah ide, materi atau pendapat dari narasumber yang berbeda dari praktik yang Anda jalankan selama ini?
Selama pembelajaran berlangsung, saya merasa tertantang dan termotivasi untuk terus menggali sumber daya yang ada di SMPN 1 Jenar Sragen meliputi 7 aset/modal yang sebelumnya belum pernah terpikirkan bahwa hal-hal tersebut merupakan aset luar biasa yang dimiliki untuk progres pengembangan sekolah.
Jiwa kolaborasi saya juga semakin meningkat seiring berjalannya waktu untuk menganalisis dan memetakan aset-aset tersebut yang belum bisa saya kerjakan sendiri karena tentunya saya harus bertanya atau berdiskusi langsung dengan pihak-pihak terkait terutama dengan pihak-pihak yang bisa membantu saya dalm melakukan aksi nyata sebagai Pemimpin pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya.
Concept
- Ceritakan konsep-konsep utama yang Anda pelajari dan menurut Anda penting untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?
Materi tentang Pendekatan berbasis aset (Asset-Based Thinking) yaitu sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri. Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir.
Berdasarkan teori tersebut, saya belajar menganalisis dan memetakan 7 modal/aset yang dimiliki sekolah yang sangatlah luar biasa dan perlu untuk terus digali, dari pada hanya sekedar memikirkan dan menfokuskan pikiran pada kelemahan/kekurangan yang saat ini kita hadapi, karena akibatnya bisa mengganggu dan menimbulkan ketidak nyamanan.
Change
- Apa perubahan dalam diri Anda yang ingin Anda lakukan setelah mendapatkan materi pada hari ini?
Setelah mendapatkan materi Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, maka dalam pengelolaan sumber daya saya akan lebih memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan (modal/aset) serta fokus pada potensi yang positif. Saya akan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi ekosistem sekolah, mengelola sumber daya yang ada di sekolah dengan menggunakan pendekatan Pengembangan Komunitas berbasis Aset (Asset Based Community Development/ABCD) sebagai usaha untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang berpihak pada murid.
Jurnal Refleksi 3.2.a.10.2. Jurnal Refleksi - Minggu 21 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya
Jurnal Refleksi 3.2.a.10.2. Jurnal Refleksi - Minggu 21 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya
Jurnal model 4C ⟮Connection, challenge, concept, change)
Connection : Dalam minggu kedua mempelajari modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, bahwa untuk menjadi pemimpin pembelajaran, saya harus menggunakan pendekatan berbasis aset, yaitu mengoptimalkan aset yang dimiliki sekolah untuk mengembangkan potensi murid.Saya terus mempelajari mengenai paradigma berpikir memandang potensi/aset sumber daya yang dimiliki oleh sekolah.
Disini saya sebagai seorang CGP, diajarkan bagaimana cara mengidentifikasi aset yang dimiliki oleh daerah tempat tinggal saya dan kebermanfaatannya bagi sekolah berkaitan dengan kekuatan/potensi yang dimiliki sekolah. Dalam mengembangkan ekosistem sekolah tentunya memiliki hambatan dan tantangan, maka kita perlu untuk melatih cara berpikir untuk berpikir positif menggunakan pendekatan berbasis aset/kekuatan dengan melihat potensi yang dimiliki oleh sekolah.
Challenge : Dalam modul 3.2 ini materi yang disajikan sangat menarik dan menambah saya dalam memahami potensi sekolah dengan berbasis aset/kekuatan di sekolah. Selama ini, dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan lainnya di sekolah dalam menghadapi tantangan di sekolah, lebih khusus dalam proses pembelajaran, maka saya dan rekan sejawat cenderung berfokus lebih banyak berpikir berbasis masalah.
Sehingga yang lebih banyak kami lihat adalah kelemahan, kekurangan, dan kesalahan.Mulai dari murid yang bermasalah, tidak mengerjakan tugas, tidak mampu menjawab soal saat ulangan, tingkah laku murid tidak baik, pembagian tugas tidak sesuai, sarana sekolah yang kurang memadai, dan layanan kepegawaian kurang memuaskan. sehingga menyebabkan masalah itu tidak mendapatkan solusi yang efektif bahkan mengakibatkan saya menjadi tidak bersemangat dan terbeban dalam hal itu.
Program yang disusun dan tindakan yang akan dilaksanakan hanya mengacu pada pemecahan masalah yang ditemukan. Hal ini berdampak pada aset dan modal yang dimiliki sekolah belum termanfaatkan dengan optimal.Visi sekolah yang disusun belum bisa direalisasikan karena masih menghadapi masalah yang ditemui.Dalam modul ini saya belajar bagaimana menggunakan pendekatan berbasis aset/kekuatan untuk mengenali dan mengidentifikasi serta memaksimalkan aset/kekuatan yang dimiliki oleh sekolah yang dapat digunakan dalam peningkatan mutu dan kualitas sekolah khususnya dalam pembelajaran murid dan juga dalam pengembangan pendidikan di sekolah.
Concept : Pada modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya memberikan saya pengetahuan tentang sekolah sebagai sebuah ekosistem, faktor-faktor yang mempengaruhi ekosistem sekolah, pendekatan berbasis masalah dan pendekatan berbasis aset, Pengembangan Komunitas Berbasis Aset ⟮PKBA), dan tujuh aset sekolah.
Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir. Dalam mengatasi tantangan yang ada di komunitas, pendekatan berbasis aset ini sangat baik digunakan untuk pengembangan masyarakat.Sekolah sebagai sebuah ekosistem adalah pola interaksi antara faktor biotik dan abiotik.
Faktor biotik ekosistem sekolah adalah murid, kepala sekolah, guru, pengawas sekolah, tenaga kependidikan, orang tua murid, komite sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Faktor abiotik ekosistem sekolah adalah sarana dan prasarana, serta keuangan sekolah.Pendekatan berbasis masalah akan fokus pada kekurangan, kelemahan, dan yang tidak bekerja dengan semestinya, sehingga fokusnya pada hal-hal negatif.
Sementara pendekatan berbasis aset merupakan cara praktis menemukan dan memanfaatkan hal-hal positif dalam komunitas, kekuatan yang dimiliki, inspirasi, dan potensi yang positif.PKBA menggunakan pendekatan berbasis aset dalam mengembangkan komunitasnya, yang digerakkan oleh seluruh anggota komunitas. Tujuh modal yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sekolah adalah modal manusia, sosial, lingkungan, fisik, politik, finansial, serta agama dan budaya.
Change : Setelah mendapatkan pembelajaran pada modul 3.2 ini, pandangan saya pada pengembangan sekolah mulai berubah. Saya tidak lagi memandang sesuatu dari sudut pandang negatif, misalnya kekurangan, kelemahan, hal yang tidak bekerja, dan masalah. Saya mulai memandang sekolah dari sudut pandang potensi, kekuatan, kelebihan, dan aset yang dimiliki.
Pengembangan sekolah yang ramah anak, memerdekakan belajar murid, dan mengoptimalkan pengembangan. Saya menyadari bahwa materi yang dipelajari sangat bermanfaat bagi saya dalam mengembangkan pembelajaran yang berkualitas berbasis aset/sumber daya yang dimiliki sekolah. Selanjutnya saya akan berusaha menggali kekuatan/sumber daya yang dimiliki oleh sekolah melalui pembentukan komunitas praktisi dengan mendiskusikan kekuatan dan potensi aset yang dimiliki sekolah.Hal ini bertujuan untuk mengembangkan potensi pembelajaran yang berkualitas untuk murid dan pengelolaan potensi sekolah untuk meningkatkan mutu dan kualitas sekolah.
Sabtu, 11 Juni 2022
3.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya
3.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya
Sekolah sebagai ekosistem pendidikan merupakan bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dengan faktor abiotik (unsur tak hidup). Interaksi ini menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Aset dan Sumber Daya terdiri dari modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan, modal finansial, modal politik, dan modal agama dan sosial. Sumber daya ini apabila dikelola dengan tepat dapat membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih baik. Pengelolaan sumber daya ini sebaiknya dapat dilakukan dengan pendekatan berbasis kekuatan/ aset. Ciri-ciri pendekatan berbasis aset adalah:
- Fokus pada aset dan kekuatan
- Membayangkan masa depan
- Berfikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut
- Mengorganisasian kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan)
- Merancang sebuah renana berdasarkan visi dan kekuatan
- Melakanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan
Hubungan Antar Materi Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya adalah seseorang yang mampu menjadikan sumber daya yang ada di sekitarnya menjadi bermanfaat dan digunakan sebagai hal positif di dalam menunjang proses pembelajaran. Guru penggerak berperan sebagai pemimpin pembelajaran dan mewujudkan kepemimpinan pada murid. Sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara, guru harus cerdas dalam mengelola dan menggali kemampuan muridnya menyesuaikan dengan kodratnya agar dapat bahagia dan nyaman dalam proses pembelajarannya. Nilai-nilai yang harus dimiliki guru penggerak adalah berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif dan inovatif. Nilai-nilai ini menjadi nilai positif yang harus dimiliki seorang pemimpin untuk mengelola sumber daya agar efektif dan efisien. Pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan oleg guru untuk mengelola murid sebagai sumber daya sesuai dengan minat, bakat dan potensinya.
Dalam pengelolaan sumber daya, seorang pemimpin pembelajaran (guru) harus Kompetensi Sosial Emosional (KSE) untuk membantu mengelola stres dalam pemanfaatan sumber daya dan pengambilan keputusan dengan kesadaran penuh. Teknik coaching sangat diperlukan untuk menggali kekuatan dan potensi yang dimiliki oleh sekolah dalam menemukan solusi dari masalah dengan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya yang dimiliki. Keterampilan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab dan sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal sangat diperlukan untuk merumuskan kebijakan dan program yang tepat. Sebagai seorang pemimpin dalam pembelajaran, pengelolaan sumber daya harus sesuai dengan visi dan misi yang telah diprogramkan dan dapat dilakukan dengan pendekatan Inkuiri Apresiatif (tahapan BAGJA) sehingga dapat memanfaatkan kekuatan yang dimiliki oleh stakeholder sekolah yang merupakan aset sekolah.
Kesimpulan Reflektif
Sebelum mempelajari materi dalam modul ini, saya secara pribadi maupun sebagai guru lebih banyak melihat sesuatu dari sudut pandang masalah. Saya terbiasa memulai perencanaan program dengan mengevaluasi dari kekurangan yang ada atau terjadi dan masih sangat terbatas memulai dengan mengutamakan aset dan kekuatan yang dimiliki.
Setelah mempelajari materi dalam modul ini, Alhamdulillah, mulai terjadi perubahan pada diri saya dalam cara pandang merencanakan program dengan lebih fokus pada aset atau kekuatan yang dimiliki. Saya mencoba menerapkan dengan mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya yang dimiliki sekolah dari brainstorming dan diskusi dengan komunitas praktisi sehingga mampu melahirkan program yang terukur.
Harapan
Setelah mempelajari modul ini, saya berharap mampu menjadi guru yang dapat memfasilitasi dan menuntun murid untuk lebih memaksimalkan potensi kreativitas yang mereka miliki. Saya berharap mampu mengelola keterampilan sosial emosional dan menerapkan coaching untuk memetakan aset yang dimiliki oleh diri sendiri, murid dan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan belajar murid dalam rangka menciptakan ekosistem sekolah yang aman, nyaman dan berdampak terwujudnya merdeka belajar menuju profil pelajar Pancasila.
Saya sedang berproses di ruang kelas dan sekolah untuk menerapkan modul-modul yang sudah dipelajari. Semoga mampu memberikan perubahan yang positif untuk kemajuan belajar murid khususnya dan sekolah pada umumnya.
RANCANGAN TINDAKAN - INKUIRI APRESIATIF (BAGJA)
PRAKARSA PERUBAHAN | Penerapan Budaya Positif 5S dalam Pembelajaran disekolah dengan Mengoptimalkan Sumber Daya Sekolah |
TAHAPAN | Pertanyaan | Daftar tindakan/ riset/ penyelidikan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan jawaban |
B-uat pertanyaan (Define) ● Membuat pertanyaan utama yang akan menentukan arah investigasi kekuatan/potensi/ peluang; ● Menggalang atau membangun koalisi tim perubahan | ● Bagaimana Penerapan Budaya Positif 5S di Lingkungan Sekolah ? | ● Memberikan angket kepada murid ● Menggali informasi dari pengalaman rekan sejawat |
A-mbil pelajaran (Discover) ● Menyusun pertanyaan lanjutan untuk menemukenali kekuatan/potensi/ peluang lewat investigasi; ● Menentukan bagaimana cara kita menggali fakta, memperoleh data, diskusi kelompok kecil/besar, survei individu, multi unsur | ● Bagaimana program pendidikan karakter dalam pembelajaran yang sudah dilakukan selama ini?
● Bagaimana contoh Penerapan Budaya Positif 5S di Lingkungan Sekolah?
● Bagaimana sarana dan prasarana yang ada? | ● Melakukan observasi dan melihat hasil supervisi akademik yang sudah dilakukan
● Melakukan studi informasi melalui kajian pustaka maupun studi digital
● Melakukan pemetaan aset dan potensi yang ada di murid, sekolah maupun lingkungan |
G-ali mimpi (Dream) ● Menyusun deskripsi kolektif bilamana inisiatif terwujud; ● Mengalokasikan kesempatan untuk berproses bersama, multiunsur (kapan, di mana, siapa saja). | ● Pembelajaran yang Menerapkan Budaya Positif 5S di Lingkungan Sekolah seperti apa? ● Bagaimana kelas ideal yang mendukung pembelajaran yang menerapkan Budaya Positif 5S?
| ● Mencari referensi kriteria pembelajaran yang Menerapkan Budaya Positif 5S ● Membentuk kelas yang ideal dalam menerapkan Budaya Positif 5S |
J-abarkan rencana (Design) ● Mengidentifikasi tindakan konkret yang diperlukan untuk menjalankan langkah-langkah kecil sederhana yang dapat dilakukan segera,dan langkah berani/terobosan yang akan memudahkan keseluruhan pencapaian; ● Menyusun definisi kesuksesan pencapaian | ● Bagaimana langkah-langkah pembelajaran menyenangkan yang dilakukan?
● Bagaimana indikator keberhasilan pelaksanaan program pembelajaran yang menerapkan Budaya Positif 5S di Lingkungan Sekolah? | ● Menyusun langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program pembelajaran
● Menyusun indikator keberhasilan dalam bentuk angket sesuai kriteria |
A-tur eksekusi (Deliver) ● Menentukan siapa yang berperan/ dilibatkan dalam pengambilan keputusan; ● Mendesain jalur komunikasi dan pengelolaan rutinitas (misal: SOP, knowledge management, monev/refleksi) | ● Siapa dan bagaimana peran pihak-pihak yang terlibat dalam program?
● Bagaimana monitoring dan evaluasi serta refleksi dilakukan? | ● Memetakan aset sumber daya manusia dan melakukan pembagian tugas sesuai kebutuhan
● Menyusun angket monev dan refleksi untuk murid, guru, dan observer |
%20,%20POSTER%20PEMETAAN%20KEKUATAN%20UPLOAD.png)