Rabu, 15 Juni 2022

3.2.a.10.3. Jurnal Refleksi - Minggu 22 Guru Penggerak

3.2.a.10.3. Jurnal Refleksi - Minggu 22 Guru Penggerak


Menggunakan model 4C. Model 4C terdiri dari Connection, challenge, concept, change.

Connection 

  • Apa keterkaitan materi yang didapat dengan peran Anda sebagai Calon Guru Penggerak?
Pada minggu ini saya menyelesaikan Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya yaitu  elaborasi pemahaman dengan instruktur yang sangat menginspirasi dari awal perkenalan sampai dengan cara memberikan refleksi. Pengelolaan sumber daya berupa aset yang dimiliki oleh SMPN 1 Jenar Sragen berhasil kami petakan sesuai permintaan  LMS modul 3.2.a.7 Demontrasi kontekstual. Kemudian dilanjutkan dengan membuat koneksi antar materi dan diakhiri dengan aksi nyata. 

 

Challenge 

  • Adakah ide, materi atau pendapat dari narasumber yang berbeda dari praktik yang Anda jalankan selama ini?  
Selama pembelajaran berlangsung, saya merasa tertantang dan termotivasi untuk terus menggali sumber daya yang ada di SMPN 1 Jenar Sragen meliputi 7 aset/modal yang sebelumnya belum pernah terpikirkan bahwa hal-hal tersebut merupakan aset luar biasa yang dimiliki untuk progres pengembangan sekolah. 
Jiwa kolaborasi saya juga semakin meningkat seiring berjalannya waktu untuk menganalisis dan memetakan aset-aset tersebut yang belum bisa saya kerjakan sendiri karena tentunya saya harus bertanya atau berdiskusi langsung dengan pihak-pihak terkait terutama dengan pihak-pihak yang bisa membantu saya dalm melakukan aksi nyata sebagai Pemimpin pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya.

 

Concept 

  • Ceritakan konsep-konsep utama yang Anda pelajari dan menurut Anda penting untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?
Materi tentang Pendekatan berbasis aset (Asset-Based Thinking) yaitu sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri. Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir. 
Berdasarkan teori tersebut, saya belajar menganalisis dan memetakan 7 modal/aset yang dimiliki sekolah yang sangatlah luar biasa dan perlu untuk terus digali, dari pada hanya sekedar memikirkan dan menfokuskan pikiran pada kelemahan/kekurangan yang saat ini kita hadapi, karena akibatnya bisa mengganggu dan menimbulkan ketidak nyamanan.


 

Change 

  • Apa perubahan dalam diri Anda yang ingin Anda lakukan setelah mendapatkan materi pada hari ini?
Setelah mendapatkan materi Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, maka dalam pengelolaan sumber daya saya akan lebih memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan (modal/aset) serta fokus pada potensi yang positif. Saya akan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi ekosistem sekolah, mengelola sumber daya yang ada di sekolah dengan menggunakan pendekatan Pengembangan Komunitas berbasis Aset (Asset Based Community Development/ABCD) sebagai usaha untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang berpihak pada murid.

Jurnal Refleksi 3.2.a.10.2. Jurnal Refleksi - Minggu 21 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

 

Jurnal Refleksi 3.2.a.10.2. Jurnal Refleksi - Minggu 21 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya


Jurnal model 4C ⟮Connection, challenge, concept, change)

Connection : Dalam minggu kedua mempelajari modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, bahwa  untuk menjadi pemimpin pembelajaran, saya harus menggunakan pendekatan berbasis aset, yaitu mengoptimalkan aset yang dimiliki sekolah untuk mengembangkan potensi murid.Saya terus mempelajari mengenai paradigma berpikir memandang potensi/aset sumber daya yang dimiliki oleh sekolah. 

Disini saya sebagai seorang CGP, diajarkan bagaimana cara mengidentifikasi aset yang dimiliki oleh daerah tempat tinggal saya dan kebermanfaatannya bagi sekolah berkaitan dengan kekuatan/potensi yang dimiliki sekolah. Dalam mengembangkan ekosistem sekolah tentunya memiliki hambatan dan tantangan, maka kita perlu untuk melatih cara berpikir untuk berpikir positif menggunakan pendekatan berbasis aset/kekuatan dengan melihat potensi yang dimiliki oleh sekolah. 

Dengan bersikap optimis, memandang peluang ditengah masalah yang dihadapi, bukan hanya cenderung pada masalah namun tetap melihat kekuatan yang dimiliki oleh sekolah dalam mengembangkan sekolah berbasis aset. Agar dapat menjadi coach bagi guru lain dan menjalin kolaborasi antar guru, idealnya melihat kelebihan setiap guru yang bisa dikembangkan untuk saling melengkapi dengan guru lain, sehingga visi memerdekakan belajar murid bisa dilaksanakan. Dengan melihat kelebihan, potensi, dan bakat murid, saya akan mampu mendorong murid menjadi mandiri dan mampu menjadi pemimpin.

Challenge : Dalam modul 3.2 ini materi yang disajikan sangat menarik dan menambah saya dalam memahami potensi sekolah dengan berbasis aset/kekuatan di  sekolah. Selama ini, dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan lainnya di sekolah dalam menghadapi tantangan di sekolah, lebih khusus dalam proses pembelajaran, maka saya dan rekan sejawat cenderung berfokus lebih banyak berpikir berbasis masalah. 

Sehingga yang lebih banyak kami lihat adalah kelemahan, kekurangan, dan kesalahan.Mulai dari murid yang bermasalah, tidak mengerjakan tugas, tidak mampu menjawab soal saat ulangan, tingkah laku murid tidak baik, pembagian tugas tidak sesuai, sarana sekolah yang kurang memadai, dan layanan kepegawaian kurang memuaskan. sehingga menyebabkan masalah itu tidak mendapatkan solusi yang efektif bahkan mengakibatkan saya menjadi tidak bersemangat dan terbeban dalam hal itu. 

Program yang disusun dan tindakan yang akan dilaksanakan hanya mengacu pada pemecahan masalah yang ditemukan. Hal ini berdampak pada aset dan modal yang dimiliki sekolah belum termanfaatkan dengan optimal.Visi sekolah yang disusun belum bisa direalisasikan karena masih menghadapi masalah yang ditemui.Dalam modul ini saya belajar bagaimana menggunakan pendekatan berbasis aset/kekuatan untuk mengenali dan mengidentifikasi serta memaksimalkan aset/kekuatan yang dimiliki oleh sekolah yang dapat digunakan dalam peningkatan mutu dan kualitas sekolah khususnya dalam pembelajaran murid dan juga dalam pengembangan pendidikan di sekolah.

Concept : Pada modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya memberikan saya pengetahuan tentang sekolah sebagai sebuah ekosistem, faktor-faktor yang mempengaruhi ekosistem sekolah, pendekatan berbasis masalah dan pendekatan berbasis aset, Pengembangan Komunitas Berbasis Aset ⟮PKBA), dan tujuh aset sekolah. 

Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir. Dalam mengatasi tantangan yang ada di komunitas, pendekatan berbasis aset ini sangat baik digunakan untuk pengembangan masyarakat.Sekolah sebagai sebuah ekosistem adalah pola interaksi antara faktor biotik dan abiotik. 

Faktor biotik ekosistem sekolah adalah murid, kepala sekolah, guru, pengawas sekolah, tenaga kependidikan, orang tua murid, komite sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Faktor abiotik ekosistem sekolah adalah sarana dan prasarana, serta keuangan sekolah.Pendekatan berbasis masalah akan fokus pada kekurangan, kelemahan, dan yang tidak bekerja dengan semestinya, sehingga fokusnya pada hal-hal negatif. 

Sementara pendekatan berbasis aset merupakan cara praktis menemukan dan memanfaatkan hal-hal positif dalam komunitas, kekuatan yang dimiliki, inspirasi, dan potensi yang positif.PKBA menggunakan pendekatan berbasis aset dalam mengembangkan komunitasnya, yang digerakkan oleh seluruh anggota komunitas. Tujuh modal yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sekolah adalah modal manusia, sosial, lingkungan, fisik, politik, finansial, serta agama dan budaya.

Change : Setelah mendapatkan pembelajaran pada modul 3.2 ini, pandangan saya pada pengembangan sekolah mulai berubah. Saya tidak lagi memandang sesuatu dari sudut pandang negatif, misalnya kekurangan, kelemahan, hal yang tidak bekerja, dan masalah. Saya mulai memandang sekolah dari sudut pandang potensi, kekuatan, kelebihan, dan aset yang dimiliki. 

Pengembangan sekolah yang ramah anak, memerdekakan belajar murid, dan mengoptimalkan pengembangan. Saya menyadari bahwa materi yang dipelajari sangat bermanfaat bagi saya dalam mengembangkan pembelajaran yang berkualitas berbasis aset/sumber daya yang dimiliki sekolah. Selanjutnya saya akan berusaha menggali kekuatan/sumber daya yang dimiliki oleh sekolah melalui pembentukan komunitas praktisi dengan mendiskusikan kekuatan dan potensi aset yang dimiliki sekolah.Hal ini bertujuan untuk mengembangkan potensi pembelajaran yang berkualitas untuk murid dan pengelolaan potensi sekolah untuk meningkatkan mutu dan kualitas sekolah.

Sabtu, 11 Juni 2022

3.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

 3.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya


Sekolah sebagai ekosistem pendidikan merupakan bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dengan faktor abiotik (unsur tak hidup). Interaksi ini menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Aset dan Sumber Daya terdiri dari modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan, modal finansial, modal politik, dan modal agama dan sosial. Sumber daya ini apabila dikelola dengan tepat dapat membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih baik. Pengelolaan sumber daya ini sebaiknya dapat dilakukan dengan pendekatan berbasis kekuatan/ aset. Ciri-ciri pendekatan berbasis aset adalah:

  1. Fokus pada aset dan kekuatan
  2.  Membayangkan masa depan
  3. Berfikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut
  4. Mengorganisasian kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan)
  5. Merancang sebuah renana berdasarkan visi dan kekuatan
  6. Melakanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan
H

Hubungan Antar Materi Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya adalah seseorang yang mampu menjadikan sumber daya yang ada di sekitarnya menjadi bermanfaat dan digunakan sebagai hal positif di dalam menunjang proses pembelajaran. Guru penggerak berperan sebagai pemimpin pembelajaran dan mewujudkan kepemimpinan pada murid. Sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara, guru harus cerdas dalam mengelola dan menggali kemampuan muridnya menyesuaikan dengan kodratnya agar dapat bahagia dan nyaman dalam proses pembelajarannya. Nilai-nilai yang harus dimiliki guru penggerak adalah berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif dan inovatif. Nilai-nilai ini menjadi nilai positif yang harus dimiliki seorang pemimpin untuk mengelola sumber daya agar efektif dan efisien. Pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan oleg guru untuk mengelola murid sebagai sumber daya sesuai dengan minat, bakat dan potensinya.

Dalam pengelolaan sumber daya, seorang pemimpin pembelajaran (guru) harus Kompetensi Sosial Emosional (KSE) untuk membantu mengelola stres dalam pemanfaatan sumber daya dan pengambilan keputusan dengan kesadaran penuh. Teknik coaching sangat diperlukan untuk menggali kekuatan dan potensi yang dimiliki oleh sekolah dalam menemukan solusi dari masalah dengan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya yang dimiliki. Keterampilan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab dan sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal sangat diperlukan untuk merumuskan kebijakan dan program yang tepat. Sebagai seorang pemimpin dalam pembelajaran, pengelolaan sumber daya harus sesuai dengan visi dan misi yang telah diprogramkan dan dapat dilakukan dengan pendekatan Inkuiri Apresiatif (tahapan BAGJA) sehingga dapat memanfaatkan kekuatan yang dimiliki oleh stakeholder sekolah yang merupakan aset sekolah.

Kesimpulan Reflektif

Sebelum mempelajari materi dalam modul ini, saya secara pribadi maupun sebagai guru lebih banyak melihat sesuatu dari sudut pandang masalah. Saya terbiasa memulai perencanaan program dengan mengevaluasi dari kekurangan yang ada atau terjadi dan masih sangat terbatas memulai dengan mengutamakan aset dan kekuatan yang dimiliki.

Setelah mempelajari materi dalam modul ini, Alhamdulillah, mulai terjadi perubahan pada diri saya dalam cara pandang merencanakan program dengan lebih fokus pada aset atau kekuatan yang dimiliki. Saya mencoba menerapkan dengan mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya yang dimiliki sekolah dari brainstorming dan diskusi dengan komunitas praktisi sehingga mampu melahirkan program yang terukur.

Harapan

Setelah mempelajari modul ini, saya berharap mampu menjadi guru yang dapat memfasilitasi dan menuntun murid untuk lebih memaksimalkan potensi kreativitas yang mereka miliki. Saya berharap mampu mengelola keterampilan sosial emosional dan menerapkan coaching untuk memetakan aset yang dimiliki oleh diri sendiri, murid dan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan belajar murid dalam rangka menciptakan ekosistem sekolah yang aman, nyaman dan berdampak terwujudnya merdeka belajar menuju profil pelajar Pancasila.

Saya sedang berproses di ruang kelas dan sekolah untuk menerapkan modul-modul yang sudah dipelajari. Semoga mampu memberikan perubahan yang positif untuk kemajuan belajar murid khususnya dan sekolah pada umumnya.

RANCANGAN TINDAKAN - INKUIRI APRESIATIF (BAGJA)

PRAKARSA PERUBAHAN

Penerapan Budaya Positif 5S dalam Pembelajaran disekolah dengan Mengoptimalkan Sumber Daya Sekolah

TAHAPAN

Pertanyaan

Daftar tindakan/ riset/ penyelidikan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan jawaban

B-uat pertanyaan (Define)

●      Membuat pertanyaan utama yang akan menentukan arah investigasi kekuatan/potensi/ peluang;

●      Menggalang atau membangun koalisi tim perubahan

●      Bagaimana Penerapan Budaya Positif 5S di Lingkungan Sekolah ?

●      Memberikan angket kepada murid

●      Menggali informasi dari pengalaman rekan sejawat

A-mbil pelajaran (Discover)

●      Menyusun pertanyaan lanjutan untuk menemukenali kekuatan/potensi/ peluang lewat investigasi;

●      Menentukan bagaimana cara kita menggali fakta, memperoleh data, diskusi kelompok kecil/besar, survei individu, multi unsur

●      Bagaimana program pendidikan karakter dalam pembelajaran yang sudah dilakukan selama ini?

 

●      Bagaimana contoh Penerapan Budaya Positif 5S di Lingkungan Sekolah?

 

●      Bagaimana sarana dan prasarana yang ada?

●      Melakukan observasi dan melihat hasil supervisi akademik yang sudah dilakukan

 


●      Melakukan studi informasi melalui kajian pustaka maupun studi digital

 

●      Melakukan pemetaan aset dan potensi yang ada di murid, sekolah maupun lingkungan

G-ali mimpi (Dream)

●      Menyusun deskripsi kolektif bilamana inisiatif terwujud;

●      Mengalokasikan kesempatan untuk berproses bersama, multiunsur (kapan, di mana, siapa saja).

●      Pembelajaran yang Menerapkan Budaya Positif 5S di Lingkungan Sekolah seperti apa?

●      Bagaimana kelas ideal yang mendukung pembelajaran yang menerapkan Budaya Positif 5S?

 

 

●       Mencari referensi kriteria pembelajaran yang Menerapkan Budaya Positif 5S


●      Membentuk kelas yang ideal dalam menerapkan Budaya Positif 5S


J-abarkan rencana (Design)

●       Mengidentifikasi tindakan konkret yang diperlukan untuk menjalankan langkah-langkah kecil sederhana yang dapat dilakukan segera,dan langkah berani/terobosan yang akan memudahkan keseluruhan pencapaian;

●       Menyusun definisi kesuksesan pencapaian

●      Bagaimana langkah-langkah pembelajaran menyenangkan yang dilakukan?

 

 

●      Bagaimana indikator keberhasilan pelaksanaan program pembelajaran yang menerapkan Budaya Positif 5S di Lingkungan Sekolah?

 

●      Menyusun langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program pembelajaran

 

●      Menyusun indikator keberhasilan dalam bentuk angket sesuai kriteria

A-tur eksekusi (Deliver)

●      Menentukan siapa yang berperan/ dilibatkan dalam pengambilan keputusan;

●      Mendesain jalur komunikasi dan pengelolaan rutinitas (misal: SOP, knowledge management, monev/refleksi)

●      Siapa dan bagaimana peran pihak-pihak yang terlibat dalam program?

 

●      Bagaimana monitoring dan evaluasi serta refleksi dilakukan?

●      Memetakan aset sumber daya manusia dan melakukan pembagian tugas sesuai kebutuhan

 

●      Menyusun angket monev dan refleksi untuk murid, guru, dan observer

 


3.2.a.9. Koneksi Antar Materi Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

 

3.2.a.9. Koneksi Antar Materi Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya


Sekolah adalah sebuah ekosistem dengan faktor biotik dan abiotik yang ada di dalamnya. Eksosistem merupakan sebuah tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu.

Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah:

  1. Murid

  2. Kepala Sekolah

  3. Guru

  4. Staf/Tenaga Kependidikan

  5. Pengawas Sekolah

  6. Orang Tua

  7. Masyarakat sekitar sekolah

Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah:

  1. Keuangan

  2. Sarana dan prasarana

 Pengelolaan sumber daya dapat dilakukan dengan 2 pendekatan yaitu:

Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking)  akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja.  Segala sesuatunya akan dilihat dengan cara pandang negatif.  Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih.  Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

Pendekatan  berbasis aset (Asset-Based Thinking) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri.  Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.

Implementasidi dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.

Perubahan masyarakat yang signifikan karena warga lokal dalam masyarakat tersebut yang mengupayakan perubahan. Apabila kita aplikasikan ke lingkungan sekolah dan seluruh warga sekolah berupaya melakukan perubahan maka perubahan tersebut pasti akan terjadi.

Warga masyarakat akan bertanggung jawab pada yang sudah mereka mulai.  Dengan demikian setiap warga sekolah akan bertanggung jawab atas apa yang sudah dimulai.

Membangun dan membina hubungan merupakan inti dari membangun masyarakat inklusif yang sehat.  Membangun dan membina hubungan antar warga sekolah, seperti hubungan guru-guru, guru – kepala sekolah, guru – murid – guru, guru – staf sekolah – guru, staf sekolah – murid – staf sekolah, ataupun kepala sekolah – murid – kepala sekolah menjadi sangat penting untuk membangun sekolah yang sehat dan inklusif.

Masyarakat tidak pernah dibangun dengan berfokus terus pada kekurangan, kebutuhan dan masalah. Masyarakat merespons secara kreatif ketika fokus pembangunan pada sumber daya- sumber yang tersedia, kapasitas yang dimiliki, kekuatan dan aspirasi yang ada.  Sekolah harus dibangun dengan melihat pada kekuatan, potensi, dan tantangan, kita harus bisa fokus pada pembangunan sumber daya yang tersedia, kapasitas yang kita miliki, serta kekuatan dan aspirasi yang sudah ada.

Kekuatan sekolah berbanding lurus dengan tingkat keberagaman keinginan unsur sekolah yang ada, dan pada tingkat kemampuan mereka untuk menyumbangkan kemampuan yang ada pada mereka dan aset yang ada untuk sekolah yang lebih baik. 

Dalam setiap unsur sekolah, pasti ada sesuatu yang berhasil. Dari pada menanyakan “ada masalah apa?” dan “bagaimana memperbaikinya?”, lebih baik bertanya “apa yang telah berhasil dilakukan?” dan “bagaimana mengupayakan lebih banyak hasil lagi?” Cara bertanya ini mendorong energi dan kreativitas. 

Menciptakan perubahan yang positif mulai dari sebuah perbincangan sederhana. Hal ini merupakan cara bagaimana manusia selalu berpikir bersama dan mencetuskan/memulai suatu tindakan. 

Suasana yang menyenangkan harus merupakan salah satu prioritas tinggi dalam setiap upaya membangun sekolah. 

Faktor utama dalam perubahan yang berkelanjutan adalah kepemimpinan lokal dan pengembangan dan pembaharuan kepemimpinan itu secara terus menerus. 

Titik awal perubahan selalu pada perubahan pola pikir (mindset) dan sikap yang positif.

Contoh hubungannya pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas. 

Pengelolaan sumber daya yang terdiri dari sumber daya modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansioal, modal agama dan budaya akan sangat berpengaruh terhadap kulitas proses pembelajaran. Maka dari itu, pengelolaan harus dilakukan secara tepat. Setiap sumber daya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Sebagai pemimpin pembelajaran kita harus bisa mengidentifikasi aset yang dimiliki sebagai kelebihan dari sumber daya, manfaatkan sumber daya yang ada dengan semaksimal mungkin dengan mengesampingkan kekurangan yang ada, fokus pada kekuatan dan dukungan yang dimiliki agar proses pembelajaran berjalan dengan maksimal dan berkualitas.

 

Beberapa contoh bagaimana materi ini juga berhubungan dengan materi lain yang didapatkan sebelumnya selama mengikuti proses Pelatihan Guru Penggerak.

 

Modul 1.1. 

Ki Hajar Dewantara membedakan kata Pendidikan dan pengajaran dalam memahami arti dan tujuan pendidikan. Pengajaran (Onderwijs) adalah bagian dari pendidikan. Pengajaran merupakan proses pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan bathin. Sedangkan pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. 

Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak. agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Semboyan Pendidikan menurut Kihajar Dewantara adalah "Ing ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo mangun karso, Tut wuri handayani. Kaitannya dengan pengelolaan sumber daya adalah pemimpin pembelajaran mengelola sumber daya yang ada (siswa) sesuai dengan kodratnya, karena sejatinya setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berikan contoh, dorongan dan motivasi dalam pengelolaan sumber daya agar menjadi efektif.

Modul 1.2 

Jika dikaitkan dengan nilai-nilai dan peran guru penggerak, sebagai pemimpin pengelolaan sumber daya harus memiliki nilai positif seperti Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, berkebinekaan global, bergotong royong dan kreatif. 

Modul 1.3 

Pengelolaan sumber daya bisa dilakukan dengan 2 pendekatan yaitu pendekatan berbasis aset dan pendekatan berbasis masalah. Sesuai dengan paradigma inkuiri apresiatif (IA) maka prinsip yang digunakan dalam pengelolaan adalah prinsip yang berbasis dengan kekuatan yang dimiliki (aset).  IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dengan demikian, dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan melalui manajemen BAGJA (Buat pertanyaan, Atur ekskusi, Gali mimpi, Jabarkan rencana).


Modul 1.4.

Agar pemimpin pembelajaran dapat bersinergis dengan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, maka budaya positif perlu dilakukan salah satunya adalah budaya positif dalam melakukan kesepakatan kelas. Hal ini dimaksudkan supaya tidak ada lagi pembelajaran yang memberikan hukuman versus hadiah. Pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya bukan sebagai penghukum, pembuat rasa bersalah, teman, pengawas melainkan sebagai manajer. Sehinggga bertanya dan membuat kesepakatan kelas, menanyakan harapan, dan apa yang perlu diperbaiki, menumbuhkan disiplin dari dalam diri dan motivasi intrinsik.

Modul 2.1

Setiap siswa memiliki latar belakarng yang berbeda, memiliki bakat dan minat yang berbeda karena pada hakikatnya siswa  memiliki multiple inteligensi. Sebagai pengelola sumber daya dalam pembelajaran kita harus bisa melayani setiap kebutuhan siswa. hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi  berdasarkan bakat dan minat, kesiapan belajar maupun profil belajar siswa. Adapun startegi yang digunakan adalah strategi proses, strategi konten dan strategi produk. 

Modul 2.2

Sadari bahwa emosi menentukan bagaimana kita mengambil keputusan. dalam pengelola sumber daya yang ada. Kompetensi Sosial Emosional Casel adalah sebagai berikut:

  1. Kesadaran Diri (Pengenalan Emosi). Kesadaran diri meliputi kemampuan memahami proses belajar dan pemikiran diri, mengembangkan sikap percaya diri dan memahami perasaan, minat, nilai dan kekuatan.

  2. Kesadaran Sosial (Empati). Kesadaran sosial meliputi pemahaman perbedaan perspektif dan berempati, mengenali dan menghargai persamaan maupun perbedaan, memanfaatkan sumber daya di rumah, sekolah dan komunitas secara efektif.

  3. Pengelolaan Diri (Pengelolaan emosi dan fokus). Pengelolaan diri meliputi mengelola stress, mengontrol impuls dan ketekunan dalam menghadapi hambatan, atau sering disebut dengan Mengelola emosi dan fokus).  Stop/ Behenti. Hentikan apapun yang sedang Anda lakukaTake a deep Breath/ Tarik nafas dalam. Sadari napas masuk, sadari napas keluar. Rasakan udara segar yang masuk melalui hidung. Rasakan udara hangat yang keluar dari lubang hidung. Lakukan 2-3 kali. Napas masuk, napas keluar. Observe/ Amati. Amati apa yang Anda rasakan pada tubuh Anda?Amati perut yang mengembang sebelum membuang napas. Amati perut yang mengempes saat Anda membuangnapas. Amati pilihan-pilihan yang dapat Anda lakukan. Fokus pada pilihan Anda yang terbaik saat ini. Proceed/ Lanjutkan. Latihan selesai. 

  4. Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab. Dalam pengambilan keputusan yang bertanggungjawab mempertimbangkan faktor etika, akademik, standard masyarakat  dalam membuat pilihan dan keputusan. Memberikan Kontribusi terhadap perwujudan dan wellbying sekolah dan komunitas.

  5. Ketrampilan Sosial (Resiliensi). Ketrampilan resiliensi meliputi: membangun hubungan yang sehat berlandaskan kerjasama dan sikap hormat. menolak tekanan sosial yang tidak tepat. mencegah dan mengelola serta menyelesaikan konflik. Mencari pertolongan bila membutuhkan.

Modul 2.3

Coaching menjadi salah satu proses ‘menuntun’ belajar murid untuk mencapai kekuatan kodratnya,  Sebagai seorang ‘pamong’. Guru dapat memberikan ‘tuntunan’ melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif dan efektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya. 

 

Pentingnya proses coaching dalam pengelolaan sumber daya yaitu 

Proses untuk mengaktivasi kerja otak murid. 

Pertanyaan-pertanyaan reflektif dapat membuat murid melakukan metakognisi. 

Pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga membuat murid lebih berpikir secara kritis dan mendalam sehingga murid dapat menunjukkan potensinya.

Keterampilan Coaching meliputi: 

Keterampilan membangun hubungan baik (kemitraan) 

Keterampilan berkomunikasi 

Keterampilan memfasilitasi pembelajaran.

Modul 3.1

Proses Coacing bisa dijadikan acuan dalam pengelola sumberdaya untuk melakukan pengambilan keputusan baik yang sifatnya dilema etika maupun bujukan moral. Pengambilan keputusan yang kita ambil jika berpedoman pada 9 langkah dalam mengambil keputusan pemimpin pembelajaran tentu sudah mencerminkan pengajaran yang berpihak pada murid, yang memerdekakan murid, meski dalam praktikknya memilih dilema etika itu sangat sulit.

Jika dalam pengambilan keputusan menggunakan prinsip jangka pendek lawan jangka panjang, tentu ketika kita mengambil keputusan untuk mengorbankan jangka pendek demi keberhasilan di masa depan kehidupan anak-anak, awalnya terkesan kurang adil, namun seiring berjalannya waktu, selain siswa diberikan pemehaman yang sesuai, pengaruh dalam jangka panjang akan tampak berpengaruh positif secara nyata dalam kehidupan anak-anak.

Hubungan antara sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan terkait modul ini, serta pemikiran yang sudah berubah setelah mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.

Sebelum mempelajari modul 3.2 tentang pengelola sumber daya, saya sering berfikir atau bahkan melakukan pengelolaan sumber daya dengan pendekatan masalah. Sehingga yang terfikir adalah sisi negatif dan kelemahan atau kekurangan yang dimiliki dari sumber daya yang ada. Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih.  Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

 

Setelah mempelajari modul ini saya baru menyadarai bahwasanya kita sebagai pengelola sumber daya harus bisa memanfaatkan apa yang kita punya sebagai kekuatan. Fokusnya adalah kelebihan yang dimiliki dengan mengesampingkan kekurangan. Menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.